Pernik Dunia Buku
 

Dari Teologi Menuju Aksi

Merek: Pustaka Pelajar
Kode Produk: Referensi
Point Reward: 0
Ketersediaan: Tersedia
Harga: Rp40.000 Rp36.000
Jml:  Beli
   - ATAU -   

 

Penulis: Abad Badruzaman, 
Penerbit: Pustaka Pelajar
ISBN: 9786028300889
Penulis : Abad Badruzaman
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : xv + 303 halaman
 
Mohammad Ichlas El Qudsi, S.Si. M.Si
 
Nilai kehidupan apapun di dunia ini, selalu memiliki prospek akhir pada nilai-nilai sentral ketuhanan (teologi). Baik dalam ranah sosial, politik, ekonomi serta ranah kehidupan lainnya. Dan nilai-nilai teologi tersebut, senantiasa berimpresi pada hubungan Tuhan-Manusia-Alam.
 
Namun, sebagai makhluk makro kosmos, hubungan Tuhan-Manusia-Alam itu, bersiklus pada manusia, sebagai pusat orbit kehidupan. Sebab itu, setiap nilai teologi, menjadikan kemakmuran hidup manusia sebagai standar kebenaran nilai tersebut. Baik nilai yang bersumber dari Tuhan (kitab suci) maunpun manusia (norma, hukum undang-undang dan hukum duniawi lainnya).
 
Dalam bukunya yang berjudul Dari Teologi Menuju Aksi ini, Abad Badruzaman juga ingin membedah sisi teologi fungsional, dalam memberikan daya dorong keberpihakan dan ke-pembela-an terhadap hak orang-orang lemah yang tertindas. Dan wujud praksis dari kesadaran ke-bertuhan-an itu adalah, menciptakan keadilan ekonomi, sosial dan politik bagi ummat manusia (terutama orang-orang kecil yang terpinggirkan).
 
Masih dalam trayek kesadaran teologi, menukil Asghar Ali Engineer dalam teologi pembebsannya, dijelaskan, “kesadaran kebertuhanan itu akan menjadi kering dan hilang sisi maknawinya, manakala dalam mendefenisi dan mengejawantahkannya tidak menunjukkan sisi keberpihakan pada ummat manusia”. Banyak ketidakadilam dan penindasan hak orang-orang lemah yang harus dibela dengan kesadaran teologi diamksud.
 
Nukilan kajian Asghar Ali Engineer soal teologi diatas, sangat tepat kita jadikan pijakan, sebagaimana ajakan penulis buku ini bahwa, sebatas keyakinan pada nilai-nalai teologi saja tidak cukup, ketika nilai-nilai tersebut tidak dibumisasikan dalam praktek kehidupan sosial. Dan kesadaran demikian harus mengilhami setiap orang, lebih khusus para pemipin, untuk menjadikan teologi keberpihakan sebagai paradigma utama dalam kepemimpinannya.
 
Golongan orang-orang tertindas yang dimaksudkan Abad Badr dalam buku ini adalah mereka-mereka yang lemah, tidak berdaya dan tertindas akibat struktur sosial yang tidak adil. Atau mereka-mereka yang terpinggirkan akibat suatu kebijakan penguasa yang tidak populis. Seperti masyarakat miskin, papa, anak-anak jalanan, masyarakat yang tergusur dan mereka-mereka yang terintimidasi akibat stigma politik masa lalu.
 
Munculnya istilah kolompok lemah ini, karena antonim dari yang kuat. Dalam keadaan yang sebenarnya, dan sesuai prinsip hukum sebab akibat, tidak mungkin ada kaum lemah yang tertindas, jika tidak ada kaum kuat yang menindas. Secara umum, pasti ada kaum lemah dan kuat. Akan tetapi, penindasan itu bukanlah sesuatu yang wajar. Karena manusia diciptakan untuk membumikan keadilan. Dan membebaskan manusia lainnya dari keterbelengguan dan berbagai kezaliman.
 
Dalam pendekatan apapun, penindasan adalah hal yang tidak dibenarkan. Karena mengakibatkan hilangnya takaran keseimbangan sosial. Kaum lemah yang tertindas akan menjadi terpinggirkan dan menderita, sementara kaum kuat yang menindas akan semakin mapan dan menikmati kesejahteraan hidup secara tidak adil.
 
Banyak ibrah yang telah kita saksikan, bahwa dari ketertindasan tersebut, banyak rakyat di negeri ini yang belum 100% menikmati keadilan dan kemakmuran. Akibat hidupnya yang terkekang dan tertindas oleh struktur sosial yang tidak berpihak. Saat ini, pemimpin dengan nalar teologi yang membebaskan sangat diharapkan agar aspirasi dan histeris orang-orang kecil itu, dapat disuarakan, untuk mendapatkan keadilan yang sepatutnya.
 
Mereka yang Tertindas
 
Dalam buku setebal 303 halaman ini Badruzaman menjelaskan bahwa, yang termasuk golongan tertindas adalah masyarakat dengan status ekonomi rendah. Mereka adalah orang-orang miskin yang tidak diberdayakan. Mereka adalah petani yang tidak dipedulikan, buruh yang dihargai dengan upah yang rendah, pembantu rumah tangga yang dilecehkan atau dianiayah, serta anak-anak jalanan yang kesehariannya dihardik oleh mereka yang bermobil mewah, bersepatu licin, berdasi, “yang setiap harinya selalu berceloteh tentang rakyat”. Tapi seolah buta dan tuli dengan kondisi sosial di sekitarnya.
 
Melalui buku berjudul Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan, penulis hendak mengajak para pembacanya untuk menjadi jiwa-jiwa pembebas penindasan. Memperjuangkan nasib rakyat kecil. Dengan tulisannya yang renyah tapi sedikit menggugat ini, nampaknya penulis ingin mengajani nurani pembaca, bahkan pemimpin negeri ini, untuk sensitif dan tanggap terhadap nasib orang-orang kecil yang kian hari kian teranggut hak-haknya sebagai manusia. ***
 
resensi ini dikutip dari http://media.kompasiana.com/buku/2010/06/26/dari-teologi-menuju-aksi-membela-yang-lemah-menggempur-kesenjangan-178022.html

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Bagus

Masukkan kode verifikasi berikut:



Taman Litera © 2018 | Designed By Hekimabi